Sabtu biasa waktu yg panjang untuk menghabiskan dengan entah rebahan, ngopi, ataupun bermain sepakbola. Semuanya bisa dilakukan. Ataupun dua diantara tiga itu wajib bagiku. Namun, ngopi sepertinya kegiatan yang tak pernah terlewatkan di hari sabtu. Beberapa hari yang lalu aku mulai merenungi satu nilai yang sepertinya sudah hilang dalam diriku ketika beranjak dewasa, perenungan seorang yang suka merenung ketika sendirian hahah dikala ngopi pada saat itu hingga waktu tulisan ini aku tulis.
Pengemis biasanya sebutan yang membuat siapa saja tersinggung jika mendapatkan sebutan itu. Namun nyatanya mereka memang ada, kehadiran mereka tentu saja menghilangkan semua rasa tersinggung itu dalam diri mereka karena memang itu dilakukan atas dasar mendesak, kekurangan, buntu, tidak ada lapangan pekerjaan. Setidaknya itu yang aku liat ketika kehadiran mereka. Meskipun tidak sedikit yang melenceng dari yang disebutkan diatas. Pengemis tetap pengemis, mereka menghilangkan harga diri demi untuk memenuhi kebutuhan harian berupa makan untuk dirinya maupun keluarganya.
Belakangan, aku merenungi satu tindakan yang sangat bertolak belakang dengan nilai yang aku anut di waktu kecil. Kehadiran mereka para pengemis dengan salam, hanya jawaban salam dan permohonan maaf yang aku ucapkan. Sangat jarang sekedar memberikan sedikit uang receh untuk mereka, yang mungkin akan mendapatkan senyuman dan doa yang baik untuk siapapun yang melakukan kebaikan itu kepada mereka.
Bayanganku teringat dengan masa lalu, aku dulu pernah protes terhadap ayah saat umurku belum menginjak sepuluh tahun. Ayah yang berprofesi sebagai pedagang, setiap hari selalu didatangi oleh pengemis. Suatu hari aku dibawa oleh ayah ke tempat ayah berdagang. Saat pengemis tiba, ayah seperti biasa memberikan uang recehan 2000 kepada pengemis di depan aku. Aku protes kepada ayah, mengapa sedikit sekali memberikan uang untuk pengemis padahal ayah banyak uang. Lalu ayah menjelaskan kepadaku, nak pengemis yang datang ke toko bukan 1 orang, sehari bisa 10 orang dan ayah selalu memberikan kepada mereka walaupun sedikit dan mereka datang tidak hanya datang sehari tapi tiap hari ada saja pengemis yang bergantian datang. Lalu aku sadar, bukan ayah yang terlalu pelit, tapi pengemisnya yang tidak sedikit. Aku paham saat itu.
Di lain waktu, bayanganku juga terbawa cerita masa kecil. Saat umurku sekitaran 10 tahun, aku dibawa oleh pamanku untuk shalat jumat di masjid, kami memanggilnya cut bit. Saat khutbah dilaksanakan dan celengan diedarkan sampailah kepada gilirannya, beliau dengan penuh keikhlasan mengeluarkan dompet miliknya dan mengambipkan uang 50 rb untuk dimasukan ke dalam celengan. 50 rb saat itu tentu uang yang sangat besar apalagi jika diliat oleh anak kecil seusiaku saat itu. Aku hanya membatin dalam hati saat itu, dermawan sekali cut bit ku andaikan saat dewasa aku dianugerahi kelebihan uang aku akan melakukan hal yang sama.
Aku merenungi, saat ini secara pribadi kebutuhan cukup, penghasilan alhamdulillah ada, namun ketika khutbah jumat dan edaran celeng sampai kepadaku nyatanya uang 50 rb sulit juga untuk keluar. Kadang aku bertanya bukankah aku mempunyai nilai kedermawanan, sosial yang begitu bagus saat kecil, lalu kemana nilai itu sekarang ?
Beranjak dewasa, saat awal kelas 1 SMK aku juga merenungi satu nilai sosial yang begitu baik yang pernah aku lakukan. Saat perjalanan menuju sekolah sore, sebuah kecelakaan terjadi di jalan yang menurutku cukup parah di depan mataku. Pengendara motor bertabrakan, satu jatuh ke tengah jalan dengan tengah kaki yang seperti tertusuk dengan material sepeda motor sehingga berkucuran darah yang sangat banyak saat itu.
Aku termasuk sangat cekatan saat itu, bergegas berhenti dan disaat yang lain menjauhkan diri, aku membangunkan korban, melihat kondisi korban yang hampir pingsan langsung membawanya ke puskesmas terdekat. Momen yang jika aku ingat selalu membuatku sangat bangga dengan diri sendiri, aku pernah sepeduli itu dengan sekitar.
Baru baru ini aku juga merenungi, untuk ikut memberikan bonceng kepada orang yang stop di jalan rasanya berat sekali, selain takut dengan beragam aksi kejahatan hal seperti itu memang sudah sangat jarang terlihat di jalanan untuk saat ini.
Entahlah, waktu terus berlalu kita secara perlahan tumbuh dewasa. Kadang masa kecil lebih banyak memberikan pelajaran kepada kita untuk hidup dengan tulus, peduli, sabar, tidak protes kepada tuhan. Entah lingkungan yang memaksakan untuk terus berubah atau memang menjadi dewasa benar menjadi bijak tapi terlalu perhitungan disisi lain.
Ada yang bilang cara menjalani hidup paling tenang itu seperti anak kecil. Hidup betul betul di momen saat ini (present). Kedewasaan sering membawa kita kedalam kehidupan 3 waktu, penyesalan masa lalu (past) dan kekhawatiran masa depan (future). Kita lupa, kita hidup di saat ini (present), ketika pejamkan mata masih bisa merasakan hembusan nafas, ketika buka mata masih bisa menggerakkan jari dan saat itu harusnya kita betul betul menyadari aku hidup di saat ini, momen saat ini. Masa lalu sudah lewat, masa depan belum terjadi.
Kembali lagi, ketika dewasa kadang kita berpikir semakin bijak menjalani hidup, namun ketika direnungi justru tidak sedikit nilai nilai positif yang justru hilang ketika beranjak dewasa. Banyak nilai yang hilang ketika beranjak dewasa tentu bukan berarti menolak menjadi dewasa atau menyesalinya. Umur terus bertambah, kesalahan terus ada, sangat manusiawi, tapi juga bagaimana kita memiliki kesadaran dan usaha memperbaiki. Ciptakan kebermaknaan dalam hidup.
Bernama lengkap seperti di akta kelahiran dan KTP Muhammad Arif. Kalau dari nasab, yang aku tau hanya sampai kakek ayahku, jadi namaku kalau memakai nasab Muhammad Arif bin Mukhtar bin Arsyad bin Abdullah. Aku lahir pada tanggal 04 Desember 1996 Masehi atau 23 Rajab 1417 Hijriah...



