Tiga tahun terakhir ini bener-bener jadi perjalanan yang mengubah cara saya ngeliat hidup. Dulu rasanya kalau udah berusaha keras maka hasilnya harus sesuai dengan keinginan, kalau saya negini, maka orang lain harus begitu, kalau saya punya planing dan jalanin semua target target kecilnya maka hasilnya harus seperti ini. Sekarang, sepertinya udh berubah total dari caraku melihat hidup, wajar dan memang seharusnya begitu seiring bertambahnya usia cara kita memandang sesuatu itu harus lebih bijak dan berubah. Ada yang bilang jika caramu melihat dunia sama seperti saat dirimu umur 10, 15 tahun yang lalu maka kamu orang yg tidak berkembang, tidak berubah, dungu. Semoga bukan bagian dari kata favorit rocky gerung itu. Saat ini bagiku, ada satu konsep yang bikin hidup jauh lebih tenang dan enteng yaitu Less Expect.
Less expect bukan berarti kita jadi orang yang malas atau nggak punya mimpi lagi. Less Expect itu strategi biar mental nggak gampang down di dunia yang isinya penuh ketidakpastian ini.
Kalau kita melihat sekitar lalu timbul pertanyaan Kenapa orang orang Gampang Stres?
Kalau diperhatiin, fenomena orang gampang stres dan kecewa hari ini itu akarnya sering banget sama, membangun ekspektasi terlalu tinggi di awal, dan ini tidak terlepas juga dari konsumsi media sosial yang berlebiham. Di era yang serba cepat dan penuh tuntutan, kita sering terjebak dalam ilusi bahwa hidup itu harus instan, harus mulus, dan harus sesuai timeline yang sempurna. Yang lebih parah lagi konsep hidup bahagia, ideal itu seperti yang diperhatikan oleh media sosial itu. Itu menjadikan siapa saja mudah kecewa, stress, merasa hidupnya tidak dipenuhi oleh kebahagiaaan.
Kita sering bikin "kontrak imajiner" sama semesta. Kita ngerasa karena kita udah berusaha, maka semesta wajib ngasih hasil yang kita mau. Pas kenyataannya beda, kita nggak cuma kecewa, tapi ngerasa dikhianati oleh keadaan. Itulah kenapa banyak orang sekarang gampang burnout, gampang marah, bahkan depresi karena mereka terlalu menaruh beban kebahagiaan mereka pada sesuatu yang belum tentu kejadian.
Perubahan cara pandang terhadap hidup ini nggak datang tiba-tiba. Saya belajar dari tiga sudut pandang yang ternyata kalau digabungin untuk "ngerem" ekspektasi tinggi itu.
1. Dikotomi Kendali (Stoisisme)
Konsep ini mengajarkan untuk kita pisahkan mana yang bisa kita kontrol dan mana yang nggak. Kita cuma bisa kontrol usaha, kedisiplinan, dan cara kita bereaksi. Hasil akhirnya? Itu udah di luar kendali kita.
Contohnya: Sangat manuawi memang ketika kita membantu orang lain, kita berharap jika mengalami kendala juga akan dibantu orang lain. Namun, itu gak selamanya berlaku ada orang orang yang kadang tidak mempunyai empati yang sama. Lalu kita harus bagaimana? Ya gak masalah, kita bisa mengontrol diri untuk membantu orang lain, disisi lain kita tidak dapat mengontrol perilaku orang lain untuk melakukan hal yang sama. Sama sekali tidak masalah. Yang masalah ketika kita punya ekspektasi orang lain harus lakuin apa yang menurutku dia harus lakuin. Itu bikin kecewa, kita gk bisa kontrol perilaku dan pikiran orang lain tapi kita bisa kontrol bagaimana kita bersikap, berpikir.
2. Sedikitkan Keinginan (Tasawuf)
Ibnu Atha’illah as-Sakandari pernah bilang: "Sedikitkanlah keinginanmu terhadap makhluk (dunia), maka akan sedikit pula rasa sedihmu." Argumentasinya sederhana, semakin kita menggantungkan kebahagiaan pada hal di luar diri kita, semakin rentan kita buat sakit hati.
Contohnya: Kalau kata gus baha' dia gak pernah berkespektasi tinggi misalnya diundamg ceramah ya tidal berharap dikasih amplop apalagi kasih tarif tinggi, kalau dirumah gk pernah berharap dilayani terus sama istrinya, disuguhi kopi dan lain sebagainya. Intinya biasa biasa saja. Semakin ribet cara berpikir tentang senang semakin ribet pula kita senang. Contoh lain dari gus baha', untuk makan enak sebetulnya gk perlu syarat syarat yang susah cukup makan dan lautnya makan itu lapar, ketika ada makanan dan kita lapar maka makanan itu sangat enak, tapi karena kita merubah definisi tentang makan enak itu harus di mall, makanan yang mahal, ditemani cewek cantik dan lain sebagainya maka semakin sulit pula kita enak makan.
3. The Paradox of Choice
Konsep ini bilang kalau punya terlalu banyak pilihan atau ekspektasi yang terlalu kompleks justru bikin kita malah nggak bahagia. Semakin banyak "skenario ideal" yang kita bangun di kepala, semakin besar kemungkinan kita buat kecewa karena realita jarang banget bisa memenuhi semua ekspektasi itu secara sekaligus. Selama ini kita gak sadar hidup di kehidupan yang memberikan kita semakin banyak pilihan dalam hal apapun itu. Mau nonton film, ribuan film di netflix bertebaran pilih pilah sehingga tidak ada satupun yang ditonton. Begitu juga belanja di toko online mau cari celana bertebaran celana dan kita jadi bingung mau pilih yang mana, padahal dengan banyak pilihan seharusnya makin mudah untuk kita menentukan pilihan terbaik. Namun dalam konsep paradok of choice banyak pilihan itu justru buat kita makin stress, kecewa. Solusinya, biasa biasa saja, jangan berekspektasi tinggi,
Mungkin ada yang ngira less expect itu sama aja kayak pasrah atau nggak punya semangat. Padahal, buat less expect ini justru optimisme yang lebih dewasa.
Kalau dulu all out cuma karena pengen hasil yang sempurna, sesuai keinginan, sekarang all-out karena memang pengen ngasih yang terbaik. Prosesnya tetep serius, strateginya tetep tajam, tapi kasih "jeda" antara proses dan hasil. Kalau nanti hasilnya nggak sesuai rencana, gak lagi ngerasa hancur atau ngerasa jadi pecundang. Tetep optimis, tapi optimisnya nggak bikin gila kalau ekspektasi meleset.
Dalam hal apapun tetap harus pasang rencana yang matang. Tapi harus sadar bahwa "kerikil" di jalan itu pasti ada. Optimisme bukan berarti yakin bakal lancar, tapi yakin kalau apapun yang terjadi nantinya, ya akan tetap handle dan terus jalan.
Intinya, less expect itu cara buat ngerasa lebih bebas. Tetep punya target dan mimpi, tapi nggak ngebiarin target itu nyetir kebahagiaan, merusak mood. Lebih matang dalam hal kontrol diri.
Ternyata, tenang itu nggak datang pas semua hal berjalan mulus sesuai rencana. Tenang itu datang pas kita bisa narik napas lega dan bilang, "Oke, saya udah lakuin yang terbaik, sisanya biar Tuhan yang atur." Hidup jadi jauh lebih ringan, dan jadi jauh lebih bisa menikmati setiap prosesnya.
Bernama lengkap seperti di akta kelahiran dan KTP Muhammad Arif. Kalau dari nasab, yang aku tau hanya sampai kakek ayahku, jadi namaku kalau memakai nasab Muhammad Arif bin Mukhtar bin Arsyad bin Abdullah. Aku lahir pada tanggal 04 Desember 1996 Masehi atau 23 Rajab 1417 Hijriah...



