Kebermaknaan Hidup

09:30:00

Sebuah reel pendek di instagram melewati feed berandaku sore hari ketika sedang bersantai dan menikmati keindahan persawahan di gubuk dekat rumah. Reel potongan podcast Bagus muljadi, seorang profesor, dosen di unversitas nottingham, inggris. Reel yang juga mengubah caraku melihat dunia dan tujuan hidup.

Dalam reel potongan podcast itu Bagus muljadi menjelaskan tentang tujuan hidup.  

"Anak muda sekarang kebanyakan mencari kebahagiaan dalam hidupnya, harusnya tujuan hidup bukan mencari kebahagian tapi makna. Saya jika meninggal sekarang, maka anak, istri saya akan sangat merasakan kehilangan, itu makna." Ungkap prof bagus.

Damm, potongan podcast itu benar-benar membuatku merefleksikan kembali tentang tujuan hidup. 

Anda mungkin bisa saja ditakdirkan menjadi orang terkaya di dunia, masuk rekor forbes, di dewa kan di media, namun ketika kehadiran dan kekayaan yang anda miliki tidak memiliki dampak apapun bagi orang sekitar, kehadiran dan ketidakhadiran anda tidak ada dampak apapun bagi sekitar maka anda hidup dengan ketiadaan makna.

Anda bisa saja menjadi ahli ibadah, full ibadah di dalam mesjid, mengasingkan diri dari keluarga, lingkungan sosial, tapi ada dan tidak ada anda tidak memiliki dampak apapun bagi sekitar maka anda sedang hidup dalam ketiadaan makna.

Semua orang mencari kebahagiaan namun selalu susah mendefinisikan kebahagiaan. Sehat, populer, kaya, punya jabatan, istri cantik, itu kebahagiaaan? Nyatanya tidak juga, mereka yang merasa punya segalanya itu juga paling merasa takut kehilangan segalanya, paling bergantung apa yang dimilikinya. Bahkan seorang elon musk orang terkaya didunia pernah mengaku dirinya tidaklah bahagia. Seorang filsuf bahkan pernah mengatakan " anda tidak akan bahagia selama mencari apa itu bahagia".

Justru kita menemukan ketenangan, ketentraman batin ketika bermakna dalam hidup. Ketika kehadiran kita anfa'uhum linnas memberikan kebermanfaatan bagi sekitar. Jika kita memaknai tujuan kehidupan beribadah kepada Allah, hanya ibadah ritual, namun meninggalkan nilai ibadah sosial justru ada ketidak seimbangan disitu. Ada makna yang hilang dalam hidup. Mengutip judul buku Gus mus, Saleh ritual saleh sosial, begitulah kita seharusnya untuk menemukan makna dalam kehidupan.

Ada orang yang salah memaknai liya'budun hanya peduli kepada ibadah ritual sehingga meninggalkan anak, istri, kerabat fokus beribadah, melupakan nafkah kepada keluarga, melupakan kepedulian sosial yang notabene juga ibadah yang tinggi ganjaran disisi tuhan. 

Sudah seyogyanya merefleksikan kembali seberapa makna diri ini dikehidupan yang sangat singkat ini. Ada yang mengatakan kita punya 2 umur, pertama umur ketika nafas terakhir berhembus, kedua umur ketika nama terakhir disebut. Untuk umur yang pertama mungkin 60an tahun atau dibawahnya, untuk yang kedua itu menunjukkan seberapa bermakna kehidupan seseorang. Nabi muhammad, albert einstein, tesla, adam smith, soekarno dan banyak nama lainnya yang masih terus disebut saat ini meskipun hembusan nafas terakhir mereka ratusan, bahkan ribuan tahun yang lalu telah berhenti. Kebermaknaan dalam hidup yang membuat nama mereka terus dikenang, dan disebutkan dimana mana.

Untuk mencapai level itu tentu tidak mudah, dan tidak semua orang bisa seperti itu. Namun kebermaknaan hidup itu setidaknya tercermin dari kehadiran kita di sekitar. Tidak usah terlalu jauh, lingkungan kecil keluarga terebih dahulu dan lingkungan sekitar. Jika susah memberikan kebermanfaat yang luar biasa seperti tandatangan yang dapst memperngaruhi keputusan, ataupun kelebihan harta yang dapat meringankan banyak beban orang lain setidaknya kehadiran kita menghadirkan energi positif bagi sekitar, memunculkan kesenangan, keceriaan bagi orang lain, maka itu sudah memberikan suatu makna bagi sekitar. 

Mencari kebahagian dalam kehidupan rasanya sangat egois dan tidak akan menenmukannya ketika dicari. Kita satu satunya makhluk hidup yang bisa memperkiralan kapan mati, mengetahui bakal mati dan seharusnya kita pula harus mempersiapkannya dengan mengisi kehidupan yang sedikit bermakna jika tidak ingin mengatakan bisa berdampak besar. 

Entahlah, tiap orang tentu memiliki makna tersendiri dalam kehidupannya, senang meringankan beban orang lain salah satunya. Aku selalu takjub dan terkagum kagum ketika ada orang yang selalu berusaha membantu atau meringankan orang lain yang padahal secara tidak langsung itu justru merepotkannya. Aku selalu percaya orang-orang seperti ini tidak hanya 'ringan tangan' seperti yang dijuluki orang-orang, namun juga orang yang mengamalkan sabda nabi secara tidak langsung "mayyasa 'ala mu'sirin yassarallahu alaihi fiddunya wal akhirah" yang memudahkan orang yang dalam kesusahan allah mudahkan urusannya di dunia dan akhirah. Jika berbicara tentang kebermaknaan dalam hidup, aku harus mengatakan bahwa orang yang ringan tangan itu orang yang paling bermakna hidupnya. Tidak sedikit kita melihat jalan hidupnya ada saja cara tuhan memudahkannya bahkan disituasi yang menurut kita mustahil, ini bahkan sunnatullah yang berlaku untuk semua manusia. Semoga kita menjadi bagian darinya. 


You Might Also Like

0 komentar